Deskripsi Masalah:
Kucing merupakan salah satu hewan yang banyak dipelihara oleh manusia, baik sebagai hewan peliharaan maupun sebagai hewan yang hidup bebas di lingkungan masyarakat. Seiring meningkatnya populasi kucing, muncul berbagai persoalan seperti perkembangbiakan yang tidak terkendali, kucing berkeliaran, perkelahian, penyebaran penyakit, serta kesulitan dalam pemeliharaan. Salah satu cara yang berkembang di masyarakat untuk mengatasi persoalan tersebut adalah melakukan kebiri atau sterilisasi terhadap kucing.
Kebiri atau sterilisasi dilakukan melalui tindakan medis berupa pengangkatan organ reproduksi. Pada kucing jantan, tindakan tersebut umumnya dilakukan dengan mengangkat testis (kastrasi), sedangkan pada kucing betina dapat dilakukan dengan mengangkat ovarium dan/atau rahim (spaying). Tindakan tersebut bertujuan menghentikan kemampuan kucing untuk berkembang biak secara permanen. Dalam praktik kedokteran hewan, sterilisasi dilakukan dengan anestesi dan dapat memberikan beberapa manfaat, antara lain mengendalikan populasi, mengurangi perilaku berkeliaran dan berkelahi, mengurangi spraying atau penandaan wilayah dengan urine, serta mencegah beberapa penyakit pada organ reproduksi. Namun, tindakan operasi tersebut juga memiliki risiko, seperti perdarahan, infeksi, komplikasi pascaoperasi, dan pada kondisi tertentu dapat menimbulkan dampak kesehatan jangka panjang. Dampak tersebut juga dapat berbeda berdasarkan jenis kelamin, spesies, ras, usia, serta waktu dilakukannya sterilisasi.
Pertanyaan:
- Bagaimana hukum melakukan kebiri atau sterilisasi terhadap kucing dengan cara sebagaimana deskripsi ?
Jawaban:
Pada dasarnya mengebiri hewan diperbolehkan dengan syarat termasuk hewan yang halal dikonsumsi dan dilaksanakan saat masih kecil sehingga mengebiri kucing sebagaimana dalam deskripsi tidak diberbolehkan.
أسنى المطالب في شرح روض الطالب، 404/1]
(فصل يجوز خصاء صغار المأكول) لطيب لحمه وقد صح أنه «- صلى الله عليه وسلم – ضحى بكبشين موجودين» (لا غيره) الأولى لا غيرها أي لا كبار المأكول ولا غير المأكول مطلقا فلا يجوز خصاؤهما للنهي عن خصاء البهائم رواه البيهقي وهو محمول على ذلك
الدر المختار وحاشية ابن عابدين (رد المحتار)، 388/6
(و) جاز (خصاء البهائم) حتى الهرة، وأما خصاء الآدمي فحرام قيل والفرس وقيدوه بالمنفعة وإلا فحرام.
(قوله وجاز خصاء البهائم) عبر في الهداية بالإخصاء، والصواب ما هنا كما في النهاية وهو نزع الخصية، ويقال: خصي ومخصي (قوله قيل والفرس) ذكر شمس الأئمة الحلواني أنه لا بأس به عند أصحابنا، وذكر شيخ الإسلام أنه حرام ط (قوله وقيدوه) أي جواز خصاء البهائم بالمنفعة وهي إرادة سمنها أو منعها عن العض بخلاف بني آدم فإنه يراد به المعاصي فيحرم أفاده الأتقاني عن الطحاوي.
الفتاوى الهندية – (ج 5 / ص 357)
ولا بأس بثقب آذان الأطفال من البنات لأنهم كانوا يفعلون ذلك في زمان رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم من غير إنكار كذا في الكبرى خصاء بني آدم حرام بالاتفاق وأما خصاء الفرس فقد ذكر شمس الأئمة الحلواني في شرحه أنه لا بأس به عند أصحابنا وذكر شيخ الإسلام في شرحه أنه حرام وأما في غيره من البهائم فلا بأس به إذا كان فيه منفعة وإذا لم يكن فيه منفعة أو دفع ضرر فهو حرام كذا في الذخيرة خصاء السنور إذا كان فيه نفع أو دفع ضرر لا بأس به كذا في الكبرى
Leave a Reply