Deskripsi Masalah:
Di perkotaan sekarang terdapat tarikan dana pembangunan untuk masjid, setiap orang di daerah tersebut diwajibkan membayar sesuai apa yang telah ditentukan. Misal, desa mau membangun masjid dan butuh dana sekian ratus juta. Ekspektasi tersebut tidak terealisasai akibat tidak ada donatur sukarelawan yang menyumbangkan hartanya untuk pembangunan masjid, sehingga biaya dibebankan ke seluruh masyarakat. kendati finansial masyarakat berbeda. Maka dari itu tarif ditentukan dan di bayar secara berangsung-angsur per bulan.
Dalam prakteknya, masyarakat diberi amplop yang telah termaktub kelas dan tarifnya (misal kls 1 @300rb, kls 2 @200rb, kls 3 @100rb), agar diisi uang dan diserahkan kepada panitia. hal ini dilakukan terus menerus sampai dirasa uang sudah cukup untuk membangun masjid. Tidak berhenti disini, panitia juga mencoba melakukan praktek tersebut untuk membangun Mushola. Tentu saja hal tersebut menimbulkan kegelisahan pada hati masyarakat karena secara tidak langsung diwajibkan kredit masjid dan musholla
Pertanyaan:
Bagaimana hukumnya penarikan dana tersebut ?
Jawaban :
Tidak dibenarkan kecuali ada kepastian masyarakat memberi dengan kerelaan.
Refrensi :
حاشية قليوبي – (ج 3 / ص 205)
سؤاله حرام أي عند إظهار الفاقة أو مع إلحاح أو إيذاء لنفسه أو للمسئول أو إلجاء إلى الإعطاء لحياء منه أو من غيره
عمدة المفتي والمستفتي ج٢ ص ٢٣٤
مسالة الذي يقتضيه كلام الأصحاب أنّ بناء المسجد سنة كفاية، وبه صرح ابن حجر في المرعى الأخضر، ولي إفتاء طويل في المسالة جزمت فيه بأنه فرض كفاية، لما في بنائه من إظهار شعائر الإسلام. وذكر الشيخ عبدالله بن سليمان الجرهزي أن الطنبداوي أخذ من كلام أصحابنا أن بناء المسجد فرض كفاية، قاله شيخنا. قلت] دليل الوجوب أمر النبي ﷺ ببناء المسجد، فأخرج أبو داود والترمذي وابن ماجه من حديث عائشة قالت: أمر رسول الله ﷺ ببناء المساجد في الدور وأن تطيب وتنظف». وأمر عمر رضي الله عنه أهل الأمصار ببناء مساجدهم، وأمرهم أن لا يبنوا مسجدين يضار أحدهما الآخر، رواه البغوي
Leave a Reply