TRANSAKSI BAWANG GROSIR

Deskripsi masalah :

Dalam proses penjualan bawang merah kepada tengkulak, petani datang dengan membawa bawang merahnya kemudian ditimbang bersama tengkulak, lalu menyerahkan keseluruhan kepadanya tanpa ada kesepakatan harga terlebih dahulu. Hal ini dilakukan oleh pihak tengkulak karena harga bawang merah bersifat fluktuatif sehingga mereka tidak mau menanggung resiko kerugian, sebab setelah petani menyerahkan bawang merah kepadanya, pada umumnya tengkulak masih harus menunggu satu sampai dua hari sampai muatan mereka terasa penuh untuk kemudian dibawa ke pasar. Dalam penentuan harga jual bawang merah yang sudah dibawa ke pasar, tengkulak biasa memanfaatkan relasi para pedagang pengecer bawang merah untuk berkumpul bersama, kemudian bertanya kepada para pedagang dengan model seperti sistem lelang, misalnya pedagang A menganggap harganya perkilo Rp 13.000, pedagang B beranggapan dengan harga Rp 15.000, pedagang C dengan harga Rp 17.000, maka tengkulak memutuskan bahwa harga bawang merah yang dia bawa ke pasar dijual dengan harga perkilo Rp 17.000, siapapun yang membeli kepadanya harganya adalah 17.000 perkilo.

Setelah semua bawang merah terjual habis di pasar barulah tengkulak menyampaikan harga jual di pasaran kepada petani yang menyerahkan hasil panenannya tersebut kepada tengkulak. Tidak hanya itu, tengkulak juga sekaligus memutuskan komisi penjualan untuknya secara sepihak dan mengambil bagiannya sebelum menyerahkan seluruh uang hasil penjualan kepada petani, tentu hal ini juga diketahui dan dimaklumi oleh petani.  Biasanya jika kebetulan harga penjualan bawang merah sedang baik, tengkulak mengambil 3.000 pada setiap kilonya, namun jika harganya sedang tidak bagus, tengkulak mengambil 2.000 pada setiap kilonya. Hal ini tidak terlalu dipermasalahkan oleh petani, karena mereka beranggapan bahwa itu adalah upah wajar yang layak tengkulak ambil, karena dia memiliki jaringan penjualan yang dapat menghabiskan dengan cepat hasil panenan petani. 

Pertanyaan:

Akad apakah yang terjadi antara petani dan tengkulak dan bagaimana hukumnya?

Jawaban :

Akad yang terjadi dalam kasus di atas adalah wakalah yang sah dan pengambilan keuntungan atas dasar ridho dari petani.

Referensi :

الإقناع للشربيني – (ج 2 / ص 319)

فصل في الوكالة  هي بفتح الواو وكسرها لغة التفويض يقال وكل أمره إلى فلان فوضه إليه واكتفى به ومنه { توكلت على الله } وشرعا تفويض شخص ما له فعله مما يقبل النيابة إلى غيره ليفعله في حياته

حاشية الجمل – (ج 17 / ص 400)

قوله وله أخذ ما يعلم إلخ : ظاهره رجوع الضمائر للضيف والمضيف له ولا يختص هذا الحكم بهما بل لكل أحد أن يأخذ من مال غيره حاضرا أو غائبا نقدا أو مطعوما أو غيرهما ما يظن رضاه به ، ولو بقرينة قوية فالمراد بالعلم ما يشمل الظن بدليل مقابلته بالشك ، وقد يظن الرضا لشخص دون آخر وفي نوع أو وقت أو مكان دون آخر فلكل حكمه ويتقيد التصرف في المأخوذ بما يظن جوازه فيه من مالكه من أكل أو غيره وما نقل عن بعضهم هنا مما يخالف شيئا من ذلك مؤول على هذا أو غير مراد فراجعه وتأمله.

الفقه على المذاهب الأربعة1 – (ج 2 / ص 397)

وعدم الإيجاب والقبول اللفظيين في الحوالة لا يبطلها، حيث جرى العرف بذلك، على أن بعض أئمة الشافعية قال: المراد بالإيجاب والقول كل ما يشعر بالرضا من قول أو فعل، والرضا هنا متحقق.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *