Deskripsi Masalah
Bencana alam terjadi serentak di sejumlah daerah di Indonesia. Ribuan warga mengungsi dengan fasilitas seadanya, jatuh pula korban jiwa, tak terhitung juga kerugian harta benda.
Kondisi prihatin yang dirasakan para korban bencana ini menggerakkan banyak kalangan. Tak terkecuali partai politik dan para calon anggota legislatif yang kemudian berlomba-lomba menyalurkan bantuan. Tindakan tersebut tentu saja patut diapresiasi. Namun, tanda tanya besar muncul ketika kemudian bendera dan simbolsimbol politik bermunculan pula dari partai dan para calon anggota legislatif itu, mulai dari sekadar stiker, spanduk, hingga pengibaran bendera. Pemandangan posko pengungsi pada hari-hari ini sudah seperti sebuah tempat konferensi dengan jajaran bendera para delegasi. Maka dari itu, sangat aneh melihat partai politik baru hadir ketika banjir sudah menerjang rumah warga. Dia berpendapat kondisi tersebut semakin menegaskan sifat partai politik yang serba instan dan belum berubah dari ciri oportunisnya.
Fakta bahwa bencana menjadi cara bagi calon anggota legislatif dan partai politik memoles citra seolah merendahkan masyarakat. Kental nuansa, masyarakat seakan bakal terbawa suasana romantis sesaat yang disuguhkan dari panggung derita yang ditampilkan bak panggung pesona citra. Partai politik dan calon anggota legislatif ini serasa menjadikan para korban sebagai obyek tipu daya. Namun, nyatanya, masyarakat kian cerdas. Bahkan saat cobaan mendera, sekarang masyarakat pun lebih waspada agar jangan sampai menjadi batu pijakan pencitraan.Para korban banjir di kawasan Rawajati, Jakarta Selatan, misalnya. Mereka berhati-hati setiap kali menerima bantuan. Ketua RT 03/7 Rawajati, Ngadiyono, menuturkan warga mengaku khawatir dimanfaatkan menjadi pendulang suara untuk Pemilu 2014 mendatang. Ngadiyono mengatakan, dia akan tetap menerima bantuan dari calon anggota legislatif ataupun partai politik. Namun, ada syaratnya. Tak boleh ada identitas calon anggota legislatif maupun partai politik dalam bantuan-bantuan tersebut.
Pakar komunikasi politik dari Universitas Indonesia, Effendi Ghazali, berpendapat, sebenarnya tidak ada manfaat bagi para calon anggota legislatif dan partai politik sibuk “berdandan” di hadapan ribuan korban bencana alam. Pasalnya, pemungutan suara masih cukup lama. ”Dari bencana ke pemungutan suara kan masih ada jarak. Apakah itu (kampanye di lokasi bencana) benar- benar tertinggal di memori mereka sebagai suatu hal yang luar biasa?” ujar Effendi. Effendi pun meragukan efektivitas berkampanye seperti itu. Apalagi, imbuh dia, selama rentang waktu yang masih relatif lama menuju pemilu sangat mungkin ada pula manuver dari calon anggota legislatif lain di daerah yang sama.
Pertanyaan:
Bolehkah partai politik atau tokoh politik (calon pejabat/ calon gubernur/ calon presiden) mengirimkan bantuan dengan tujuan menaikkan elektabilitas dan memperoleh suara lebih banyak dalam pemilu?
Jawaban:
Diperbolehkan, karena tidak termasuk suap.
Referensi :
اعانة الطالبين ج : 3 ص : 144
والحاصل أنه ان ملك لأجل الإحتياج او لقصد الثواب مع صيغه كان هبه و صدقه وإن كان بقصد الإكرام مع صيغه كان هبه وهديه وإن ملكه لا لأجل الثواب ولا لإكرام بصغه كان هبه فقط وإن ملك لاجل الحتياج أو الثواب من غير الصيغه كان صدقه فقط وان ملك لاجل الكرام من غير صيغهكان هديه فقطفبين الثلاثه عموم و حصوص من وجه .
إحياء علوم الدين الجزء 2 صحـ : 155-156 مكتبة الشاملة
مسألة سئل عن الفرق بين الرشوة و الهدية مع أن كل واحد منهما يصدر عن الرضا ولا يخلو عن غرض وقد حرمت إحداهما دون الأخرى فقلت باذل المال لا يبذله قط إلا لغرض ولكن الغرض إما آجل كالثواب وإما عاجل و العاجل إما مال وإما فعل وإعانة على مقصود معين وإما تقرب إلى قلب المهدى إليه بطلب محبته إما للمحبة في عينها وإما للتوصل بالمحبة إلى غرض وراءها فالأقسام الحاصلة من هذه خمسة …. الى أن قال الرابع ما يقصد به المحبة وجلبها من قبل المهدي إليه لا لغرض معين ولكن طلبا للاستئناس وتأكيد للصحبة وتوددا إلى القلوب فذلك مقصود للعقلاء ومندوب إليه في الشرع قال صلى الله عليه و سلم تهادوا تحابوا // حديث تهادوا تحابوا أخرجه البيهقي من حديث أبي هريرة وضعفه ابن عدي وعلى الجملة فلا يقصد الإنسان في الغالب أيضا محبة غيره لعين المحبة بل لفائدة في محبته ولكن إذا لم تتعين تلك الفائدة ولم يتمثل في نفسه غرض معين يبعثه في الحال أو المآل سمى ذلك هدية وحل أخذها
روضة الطالبين وعمدة المفتين – (ج 4 / ص 132)
فرع قد ذكرنا أن الرشوة حرام مطلقا والهدية جائزة في بعض الأحوال فيطلب الفرق بين حقيقتيهما مع أن الباذل راض فيهما والفرق من وجهين أحدهما ذكره ابن كج أن الرشوة هي التي يشرط على قابلها الحكم بغير الحق أو الامتناع عن الحكم بحق والهدية هي العطية المطلقة والثاني قال الغزالي في الإحياء المال إما يبذل لغرض آجل فهو قربة وصدقة وإما لعاجل وهو إما مال فهو هبة بشرط ثواب أو لتوقع ثواب وإما عمل فإن كان عملا محرما أو واجبا متعينا فهو رشوة وإن كان مباحا فإجارة أو جعالة وإما للتقرب والتودد إلى المبذول له فإن كان بمجرد نفسه فهدية وإن كان ليتوسل بجاهه إلى أغراض ومقاصد فإن كان جاهه بالعلم أو النسب فهو هدية وإن كان بالقضاء والعمل فهو رشوة.
Leave a Reply